Skip to main content

Asa Petani Tua

Oleh: Adhy SuryadiPada: Februari 12, 2020

Asa Petani Tua

Asa Petani Tua - Hidup memang penuh misteri, manusia hanya bisa menjalani apa yang menjadi kehendak-Nya. Setidaknya itu yang saya alami dan rasakan di hampir separuh abad usia ini. Kenyataan hidup terasa pahit dari apa yang kita rencanakan dahulu.

Saya sering mendengar kalimat, "jangan merencenakan sesuatu, karena suka tidak jadi." Saya tidak membenarkan kalimat itu, tapi saya atau mungkin Anda malah sering mengalami bahwa memang kenyataan sering tidak sesuai dengan rencana. Terkadang hal-hal yang tidak direncanakan malah itu yang terjadi.

Dari hal itu saya jadi ingat perkataan ayah saya dulu, "nak kelak kamu besar nanti, kamu harus jadi orang sukses, jangan seperti ayah ini hanya seorang petani."

Dari perkataan ayah tadi, membuat saya benar-benar tidak membayangkan menjadi petani. Yang ada dipikiran saya waktu itu adalah saya mau jadi seorang tentara agar bisa membanggakan orang tua.

Dan apa yang terjadi?

Saya tidak menjadi tentara dan pun saya tidak menjadi seorang petani, hanya seorang blogger yang mencoba mencari uang dari internet. Lagi-lagi hidup ini tidak sesuai rencana, tapi hidup harus tetap dijalani.

Nah sore ini saya teringat kembali pada perjalanan hidup saya tersebut, dan mari kita sedikit berandai-andai.

Apakah menjadi petani itu sesuatu hal yang buruk? Tentu saja tidak, semua pekerjaan selain yang merugikan orang lain atau selain pekerjaan yang menghilangkan hak orang lain adalah yang baik, termasuk menjadi seorang petani. Kalau tidak ada petani, bagaimana kita mendapatkan beras, singkong, dan bahan makanan lainnya?

Tapi kenapa ayah dulu mengatakan kalau saya jangan seperti beliau, menjadi seorang petani?

Saya tahu maksud beliau benar, agar anaknya hidup lebih sukses dari hidup beliau waktu itu. Yang beliau rasakan waktu itu adalah kerja kotor-kotoran dan menguras tenaga untuk mengolah sawah dan kebun. Nah mungkin harapan beliau adalah berharap hidup anaknya cukup sandang cukup pangan tanpa harus bekerja seperti beliau.

Tapi jika dulu ayah tidak berkata begitu, mungkin akan lain kenyataannya. Seandainya dulu ayah tidak mengatakan, "jangan seperti ayah ini hanya seorang petani." Seandainya dulu ayah mengatakan kalau saya harus jadi orang yang lebih sukses dari ayah. Mungkin jadi petani tidak akan hilang dari kepala ini. Mungkin dulu saya akan berusaha dan belajar menjadi petani yang lebih sukses dari beliau.

Akhirnya, saya tidak bisa menjadi apa yang direncanakan menjadi seorang tentara, pun saya juga tidak bisa menjadi seorang petani. Akhirnya lahan sawah dan kebun yang ada dijual sedikit demi sedikit untuk menyambung hidup keluarga dan akhirnya habis semua terjual.

Seandainya saya belajar menjadi petani dan memanfaatkan teknologi yang ada untuk menggarap lahan sewaktu sawah dan kebun masih ada, mungkin saja saja saya menjadi petani yang sukses.

Seperti kita tahu makin ke sini makin banyak teknologi praktis dan sederhana yang dapat membantu petani untuk menggarap lahannya lebih mudah. Begitu pun untuk informasi pertanian lainnya sangat banyak dan mudah diakses, sehingga kita bisa mencocokan dengan lahan kita.

Namun sayangnya, tidak banyak tersisa keinginan untuk menjadi seorang petani di kepala pemuda zaman sekarang seperti saya ini.

Banyak dari pemuda sekarang yang lebih memilih bekerja di kota, menjadi PNS, dan lainnya, daripada menjadi seorang petani yang sukses. Mungkinkah mereka juga tidak memiliki keinginan menjadi petani di kepalanya karena omongan "yang kurang tepat" dari orang tuanya dulu?

Pemuda dahulu yang menjadi petani (angkatan ayah saya) tentunya sekarang sudah menjadi tua. Sawah dan kebun sudah banyak yang dijual untuk pemukiman karena tidak ada yang menggarapnya.

Akhirnya sumber pangan kita menjadi tidak produktif dan beralih fungsi. Akhirnya kita kekurangan bahan pangan. Akhirnya pemerintah import beras, gula, dan bahan pangan lainnya. Akhirnya para mahasiswa dan masyarakat berdemo karena pemerintah mengimport bahan pangan.

Adakah di setiap kepala pendemo itu keinginan untuk menjadi petani? Adakah di setiap kita sebagai pemuda mau kotor-kotoran menggarap lahan sawah dan kebun yang masih ada sekarang ini?

Jawabannya tentu ada, tapi tidak banyak.

Ini hanya celoteh anak petani yang tidak menjadi petani dan sudah tidak memiliki lahan sawah dan kebun lagi. Celoteh seorang manusia yang sudah setengah tua yang berharap pada pemuda-pemuda sekarang, khususnya bagi yang orang tuanya masih memiliki lahan untuk bisa kembali mengolah lahannya agar lebih produktif lagi.

Agar kami-kami yang sudah kehilangan asa sebagai petani ini bisa tetap makan dengan membeli bahan pangan dari pemuda sepertimu dengan harga yang normal. Jangan biarkan kami yang menua ini terus-menerus memakan beras import.

Saya masih yakin dengan lagu dari Koes Plus ini.

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
kupat
Marhaban ya Ramadhan… Bulan suci penuh berkah telah tiba. Saatnya untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Menjauhi keburukan dan memperbanyak ibadah pada-Nya. Selamat datang bulan suci Ramadhan 1442 H.
Admin Diksi Fiksi