Skip to main content

Sepeda Ontel Tua Penjual Sapu

Oleh: Adhy SuryadiPada: Februari 18, 2020

Sepeda Ontel Tua Penjual Sapu

Namanya Ki Jamhuri, begitulah orang-orang memanggilnya. Umurnya sekitar 75 tahun dengan perawakan kurus dan agak membungkuk. Setiap hari Jum'at dia selalu lewat di depan rumahku yang kebetulan berada di pinggir jalan desa. Dan selalu melihatnya di mesjid kampungku ketika waktu shalat Jum'at tiba.

Ki Jamhuri itu seorang penjual sapu lidi keliling. Dia menggunakan sebuah sepeda ontel tua untuk membawa sapu lidi dagangannya. Namun sepedanya tersebut tidak dikayuhnya, melainkan dituntun dengan berjalan kaki dengan beberapa ikat sapu lidi di boncengan sepedanya.

Hari itu seperti biasa aku sedang membereskan halaman rumah dengan menyapu daun-daunan kering yang jatuh dari pohon yang ada di sekitar rumah. Padahal waktu baru menunjukan pukul 9 pagi, tetapi sinar matahari sudah terasa agak terik.

Dan seperti biasa, Ki Jamhuri terlihat berjalan menuntun sepeda ontel tuanya melewati rumahku.

"Ki...berhenti sebentar," tegurku sambil mendekatinya ke tepi jalan.

"Iya cep... mau beli sapu?" ia balik bertanya sambil menghentikan langkahnya. Tampak keringatnya bercucuran di mukanya yang sudah keriputan, maklum dia berjalan keliling kampung untuk menjual sapu ke orang-orang kampung. Dan kebetulan hari itu cuaca memang sudah agak terik padahal hari masih terbilang pagi.

"Iya ki... kebetulan sapu lidi saya sudah pendek, jadi kena nih pinggang kalau nyapu hehehe...," kataku sambil memegang pinggang dengan akting meringis kesakitan. Ya... biar sedikit menghibur kakek renta yang terlihat kecapaian. Dan usahaku berhasil, tampak Ki Jamhuri tersenyum.

"Hehehe encep ini bisa aja, masa yang nyapunya tangan tapi yang sakitnya pinggang..," ucap Ki Jamhuri sambil menyenderkan sepedanya di pagar rumahku.

"Iya ki... kan sapunya pendek, jadi saya harus bungkuk nyapunya," terangku.

"Eh... mending kita ngobrol dulu yuk ki sambil minum dulu, kakek kayaknya kehausan tuh...," sambil ku ajak kakek itu untuk duduk dulu di teras rumah.

"Oh... iya boleh cep... dan kalau boleh kakek minta segelas air saja, kakek lupa bawa bekal air minum," katanya sambil duduk di kursi teras.

Aku langsung masuk ke rumah untuk mengambil air minum buat Ki Jamhuri. Senang rasanya aku bisa memberi minum seorang kakek, jadi ingat ke kakekku yang sudah tiada. Jika masih hidup kayaknya sepantaran dengan Ki Jamhuri.

"Ini kek airnya, silahkan diminum," kataku sambil menyerahkan segelas air putih dingin.

"Glek... glek... glek...," terdengar suara kerongkongannya menelan air putih, tampak ia sangat kehausan.

"Makasih ya...," katanya kemudian sambil meletakan gelas yang sudah kosong di meja.

"Sama-sama kek... nah nanti lagi kalau lewat ke sini mampir dulu kek, barangkali mau minum ya...."

"Oh iya... itu sapunya tinggal berapa kek? Saya beli semuanya deh buat persediaan juga."

"Itu ada 9 sapu lagi cep. Mau dibeli semua?" tanyanya seolah tidak percaya kalau sapunya akan diborong semua.

"Iya kek sekalian buat persediaan dan sekalian buat ngasih tetangga, daripada dia pinjam terus mending saya kasih hehehe.... Jadi berapa semuanya?"

"Satunya 4 ribu, jadi semuanya 36 ribu cep," katanya tanpa harus mikir lama, mungkin karena sudah biasa menghitung ketika ada yang membeli sapunya.

Kumasukan uang 100 ribu ke dalam sakunya, "uangnya gak usah dikembalian kek, sisanya buat kakek aja," kataku sambil tersenyum. Kulihat matanya berkaca-kaca dengan mulut yang bergetar.

"Terima kasih ya cep, semoga uangnya barokah dan diganti yang berlipat oleh Allah subhanahu wata'ala," ucapnya dengan nada yang bergetar sambil terlihat mengangkat tangannya berdoa.

Setelah itu Ki Jamhuri pamitan untuk melanjutkan perjalanannya, bukan untuk pulang melainkan menuju mesjid di kampungku untuk menunggu waktu shalat Jum'at dengan tetap menuntun sepedanya walaupun boncengannya sudah kosong. Rupanya dia tidak bisa naik sepeda, hanya bisa menuntunnya saja.

Aku hanya bisa tersenyum dan kagum dengan beliau, karena di hari tuanya beliau tetap berusaha untuk menghidupi dirinya tanpa mengemis minta-minta.

Namun di hari Jum'at selanjutnya dan selanjutnya aku tidak lagi melihatnya melintas di depan rumahku. Kutanyakan ke orang-orang pun tidak ada yang mengetahuinya kabarnya dan tidak ada yang tahu keberadaannya.

Semoga kabar baik menyertaimu kek, terima kasih untuk pelajaran hidupnya.

Bersambung....

Next: bagian 2

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
kupat
Marhaban ya Ramadhan… Bulan suci penuh berkah telah tiba. Saatnya untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya. Menjauhi keburukan dan memperbanyak ibadah pada-Nya. Selamat datang bulan suci Ramadhan 1442 H.
Admin Diksi Fiksi